“Sumatera Barat itu ibaratkan sekeping surga yang jatuh ke dunia” Jero Wacik (Menteri Pariwisatakan bahwa, Seni, dan Budaya).
Go To Bukittinggi
Jumat (7 Mei 2010), kami (Saya, Rizal, Ega, Icha) menuju ke Bukittinggi. Dengan Panther (travel), pukul 21.00 kami meninggalkan Pekanbaru. Perjalanan saya ke Bukittinggi, ini untuk pertama kali sejak tinggal di Pekanbaru. Terakhir ke Bukittinggi, saat umur 6 tahun, memori masa itupun sudah banyak lupa.
Perjalanan kami ke Bukitinggi tidak berjalan mulus, travel yang kami tumpangi mengalami dua kali tabrakan kecil. Pertama saat di Bangkinang, sebuah motor menabrak bodi belakang Panther sehingga membuat bemper belakang sedikit naik. Kedua, satu jam kemudian, bodi belakang kembali di tabrak, untung tidak terjadi apa-apa dengan kami.
Pukul 3 pagi tiba di Bukittinggi, kami menuju penginapan yang sudah di pesan sebelumnya, dekat Jam Gadang, dan objek wisata lainnya. Penginapannya bersih, murah, aman, hanya 150 ribu rupiah per malam, ada TV dan kamar mandi di dalam, bisa diisi untuk 2 orang. Kamar cewek tepat disebelah kamar saya dan Rizal. Kamar mereka lebih luas 1,5 kali dari kamar kami.
Tentang penginapan, tidak usah khawatir karena disini banyak hotel melati yang aman, nyaman, murah, semua dekat dengan objek wisata. Tapi jika ingin menginap saat long weekend, baiknya dipesan terlebih dahulu.
Pertualangan Hari Pertama, Dimulai !
Tujuan pertama adalah Danau Maninjau, sebuah danau di kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam 36 kilometer dari Bukittinggi. Menurut wikipedia, danau ini merupakan danau vulkanik yang berada di ketinggian 461,50 meter di atas permukaan laut dengan luas sekitar 99,5 km² dan memiliki kedalaman maksimum 495 meter. Cekungannya terbentuk karena letusan gunung yang bernama Sitinjau, hal ini dapat terlihat dari bentuk bukit sekeliling danau yang menyerupai seperti dinding.
Jam 9 pagi, dengan Innova sewaan, kami bersiap meninggalkan Bukittinggi. Sengaja menggunakan mobil sewaan, agar perjalanan jauh kami hari itu dapat dinikmati dengan nyaman. Pesona yang disuguhi pertama kali adalah suasana pagi hari di Bukittinggi, kota yang tidak begitu ramai, dikelilingi oleh pegunungan dan perbukitan, berhawa sejuk.Satu jam kemudian, kami sudah memasuki daerah Matur. Sepanjang perjalan, kami disuguhkan persawahan yang hijau, menyejukkan mata. Jalan yang cukup sempit dan berkelok, tidak banyak, justru ini adalah pemanasan sebelum menuruni kelok 44. Tapi, kelokkan ini membuat Rizal dan Icha sedikit mual. Katanya, mereka memang tidak terbiasa melakukan perjalan jauh, bukan seorang penggemar traveling seperti saya dan Ega.
Tak berapa lama, “hoeks”, ternyata Icha mulai mual, dan ia pun gugur, sebuah kantong plastik terpaksa menampung “mabok” nya. Lalu, “hoeks”, ternyata Rizal pun juga mengalami hal yang sama.
“Sudah kelok 44 bang?” tanya Rizal kepada sopir.
“Belum, kelok 44 masih jauh” Jawab sopir
“Waduh, belum kelok 44 saya sudah mabok” Kata Rizal.
Pesona Maninjau
Terlihat, sebuah plang bertuliskan angka “44”. Kami akan disuguhkan sebuah pemadangan alam yang mempesona, sekaligus menakjubkan, Danau Maninjau. Untuk menikmati pesona maninjau dari puncak, kami berhenti di kelok 43. Hari sudah menunjukkan pukul 11 siang, tapi kabut tipis masih setia menyelimuti sebagian “atap” danau. Decak kagum, sebuah suguhan yang luar biasa. Pemandangannya, seperti sebuah lukisan, danau yang airnya bening, terlihat biru karena pantulan warna langit, disampingnya terdapat sebuah bukit, berwarna hijau, sebagian “bopeng” berwarna coklat karena longsor saat gempa besar 30 September 2009 di Sumatera Barat, justru membentuk garis-garis indah.
“Waaaaawww, indah ya di…..” decak kagum Ega saat pertama kali melihat Maninjau.
“Terakhir aku melewati kawasan ini, 10 tahun lalu, sungguh indah banget” kataku.
Saya melihat raut muka kagum pada wajah Ega dan Icha, senang rasanya bisa membawa mereka ke sini. Saya lihat, Ega tak ingin memalingkan pandangannya dari Maninjau. Kalo Rizal, hanya terduduk lemas, karena “mabok” saat perjalanan tadi.
Setelah kabut menutupi pandangan kami menikmati Danau Maninjau dari atas bukit, perjalan pun dilanjukan. Sekarang, menuruni kelok menuju ke bawah. Dinamakan Kelok 44, masyarakat sekitar menyebutnya Kelok Ampek Puluah Ampek karena untuk menuruni Danau Manijau harus melewati 44 buah kelokan tajam, bahkan ada yang memutar 180 derajat. Kelok ini berada tepat di samping danau maninjau. Disetiap kelokan di pasang plang angka, dari angka 1 (kelok paling bawah, dekat dengan danau) hingga angka 44 (di atas bukit).
Saya perhatikan, pak sopir begitu terampil bermanuver, bagaimana melewati jalan sempit, mengemudikan mobil di tikungan-tikungan tajam. Jika berpapasan dengan kendaraan lain, maka harus mengutamakan kendaraan yang mendaki untuk berjalan terlebih dahulu. Saya lihat beberapa bus AKAP ukuran menengah (seukuran Kopaja/Metro Mini) harus bergerak perlahan bahkan sampai mengeluarkan asap tebal untuk bisa mendaki. Setiap kelok terdapat sebuah spion berdiameter sekitar 30 cm yang membantu (memandu) pengemudi untuk melintasi setiap kelokan.
Selama menuruni Kelok 44, kami masih disuguhi pesona Danau Maninjau, juga terdapat monyet yang duduk di pinggiran pembatas jalan, beberapa ada yang lalu lalang bahkan bergelantungan di pohon-pohon sekitar jalan. Saya pun juga sedikit mual menuruni kelok 44, untuk menghilangkan rasa mual tersebut, saya coba untuk mengajak ngobrol sopir, sekalian berusaha agar dia tidak ngantuk. Tapi, sopirnya pendiam, tidak bicara kalo tidak saya yang mulai.
Sangat disayang, saya sendiri yang menikmati perjalan menuruni kelok ini, sementara 3 lainnya sudah pulas tertidur, itu termasuk salah satu cara untuk menghindari mabok darat.
“Sudah kelok berapa mas?” tanya Icha ke saya
“Masih kelok 22” Jawabku
“Waduh, baru setengah jalan ya, tidur lagilah” katanya.
Setelah sukses menuruni kelok 44, berikutnya adalah perjalan menuju Kota Padang, melewati Lubuk Basung, Tiku, Kabupaten Padang Pariaman, dan Kota Pariaman. Butuh waktu 3 jam dari Maninjau menuju Padang.
Jam 1 siang, kami tiba di Kota Pariaman, istirahat sejenak untuk sholat Dzuhur dan makan siang. Ternyata tiga teman saya masih tertidur pulas, sejak menuruni kelok 44 tadi. Mereka bertiga memang tipe pelor (nempel jok langsung molor).
Kami makan disebuah rumah makan yang cukup besar, saya ajak pak sopir untuk makan semeja bersama kami, tapi dia menolak. Dirumah makan ini juga tersedia lesehan. Di lesehan, kami mencicipi masakan padang yang kaya cita rasa, ditemani bunyi rintik hujan, membuat udara panas Kota Pariaman, menjadi lebih sejuk. Sejenak melepas lelah, mencoba membayangkan kembali indahnya maninjau, sekaligus mengatur rencana apa yang akan dituju di Padang nanti.
Makanan pun datang, dua bakul nasi, beserta lauk pauk yang banyak pilihan. Saya lihat Rizal dan Icha makan dengan lahap, maklum mereka belum makan nasi sejak kemarin siang, itulah yang membuat mereka berdua berkali-kali mabok di perjalan ini. Makan siang selesai, sholat Dzuhur selesai, tenaga kembali pulih, perjalanan di lanjutkan
Padang, Sisa Gempa dan Laut Biru
Jam tiga sore kami tiba di Padang, mengelilingi Kota ini untuk melihat sisa-sisa gempa 30 September lalu. Terlihat, beberapa bangunan retak, miring, runtuh hanya tinggal atap, bahkan ada yang hancur. Lalu, melewati Jembatan Siti Nurbaya, Darmaga Muara, melewati Jalan Samudra (pinggir laut), dan berhenti di Pantai Padang, ada yang menyebutnya Pantai Purus, ada juga yang menyebutnya Pantai Muaro. Sampai di pantai, Tentulah main air, ditemani jagung bakar dan teh botol, menikmati semilir angin laut, deru ombak.
Pukul 5 sore, kami pulang ke Bukittinggi. Pulang lebih awal dan terpaksa tidak menikmati sunset, karena untuk menghindari kemungkinan buruk jika jalan penghubung padang-bukittinggi di daerah Padang Panjang putus karena longsor, apalagi saat itu lagi hujan. Selama musim hujan, longsor di kawasan tersebut acap kali terjadi.
Benar, tampak beberapa pekerja sedang memperbaiki beberapa titik jalan yg ambruk, sisa longsor beberapa waktu lalu, terlebih di sekitar Air Terjun Lembah Anai. Jalan yang seharusnya 2 jalur, sekarang hanya satu jalur.
Akhirnya, pukul delapan malam tiba di Bukittinggi, setelah selesai mandi kami menuju ke Jam Gadang yang tidak jauh dari penginapan. Jam Gadang berlokasi di pusat Kota Bukittinggi. Jam Gadang ini merupakan lambang Kota Wisata Bukittinggi yang dikelilingi oleh taman bunga dan pohon-pohon pelindung, dan berfungsi sebagai alun-alun kota. Salah satu keunikan Jam Gadang adalah angka empat yang ditulis dengan empat buah angka satu Romawi yang seharusnya ditulis dengan angka empat Romawi. Tak jauh dari Jam Gadang, terdapat Rumah (Istana) Bung Hatta danTri Arga, terdapat pusat perbelanjaan Plaza Bukittinggi, KFC, Pizza Hut, dan beberapa komplek ruko.
Lapar berat, telah kami kelilingi kawasan sekitar Jam Gadang, tapi sulit menemukan pedagang yang menjajakan makanan berat, selain nasi padang. Alhasil, kami pun akhirnya makan di KFC.
Hawa dingin kota Bukitinggi, membuat kami tidur nyenyak malam ini setelah seharian keliling menikmati keindahan Maninjau dan Padang.
Hari Kedua, Jelajah Bukittinggi
Tujuan pertama adalah Taman Panorama, di taman ini bisa menikmati Ngarai Sianok dan masuk ke Lobang Jepang, harga tiket masuk Cuma 8 ribu rupiah per orang . Dari penginapan, dapat ditempuh dengan jalan kaki ke tempat ini.
Ngarai Sianok, miniatur Grand Canyon, begitulah kira-kira. Ngarai Sianok merupakan suatu lembah yang indah, hijau dan subur. Didasarnya mengalir sebuah anak sungai yang berliku-liku menelusuri celah-celah tebing dengan latar belakang Gunung Merapi dan Gunung Singgalang.
Di Taman Panorama ini, terdapat banyak monyet. Mereka jinak, paling suka jika di beri kacang. Bermain dengan monyet-monyet, semacam mendapat teman baru. Oh ya, jangan meninggalkan tas atau barang bawaan sembarangan, bisa saja tas atau barang bawaan anda akan di bawa lari oleh monyet-monyet disini, dan Icha nyaris saja mengalami hal itu.
Lobang Jepang, atau Gua Jepang, lebih tepat disebut terowongan (bunker) Jepang. Lobang yang kokoh ini dibangun oleh para romusa (pekerja paksa). Dibangun tahun 1942 untuk kepentingan pertahanan tentara Jepang dalam PD II dan perang Asia Timur Raya. Lubang Jepang memiliki panjang sekitar 1400 m dan lebar ± 2 m. Kita dapat masuk ke Lubang Jepang ini dan dengan menelusurinya kita akan merasakan sensasi yang sangat unik. Didalamnya terdapat ruang makan, ruang minum, ruang penyiksaan, dapur dan ruang persenjataan.
Sebenarnya, tidak masalah jika masuk sendiri ke Lobang Jepang tanpa bantuan guide. Di dalam sudah tersedia penerangan. Karena kami ingin mengetahui lebih jauh tentang isi, fungsi ruangan dan sejarah gua jepang, kami menyewa pemandu (guide).
Tujuan berikutnya adalah Benteng Fort De Kock, Jembatan Limpapeh dan Taman Marga Satwa Budaya Kinantan. Satu tiket masuk untuk menikmati ke tiga objek wisata ini, 8 ribu rupiah per orang.
Dari Taman Panorama, kami menyewa bendi (delman). Satu delman, dinaiki 5 orang (termasuk kusir), kasihan kudanya yang harus meringkik mengangkut beban berat. Di dalam pun kami berdesak-desakan, tetap seru.
Benteng Fort De Kock ini didirikan tahun 1825 terletak di atas Bukit Jirek ini digunakan oleh Tentara Belanda sebagai kubu pertahanan dari gempuran rakyat Minangkabau terutama sejak meletusnya perang Paderi pada tahun 1821-1837. Disekitar benteng masih terdapat meriam-meriam kuno periode abad ke 19.
Meski sedikit terik, tapi pohon-pohon rindang di sekitar benteng membuat sejuk, ditambah semilir angin dan kicau burung dalam kurungan di sekitar kawasan benteng.
“Kota nya asik ya, objek wisatanya terpusat” Kata Ega.
“Mas, aku pengen lama-lama di Bukittinggi lho” Seru Icha.
Sebagai penghubung antara Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan dengan Benteng Fort De Kock maka terdapat sebuah Jembatan yang bernama Jembatan Limpapeh yang dibangun dengan konstruksi beton dengan arsitektur atap yang berbentuk gonjong khas rumah adat MinangKabau. Jembatan ini berdiri di atas Jalan A. Yani dan dari sini kita dapat menyaksikan keindahan alam Bukittinggi dan keramaian Jalan A. Yani.
Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan atau lebih dikenal dengan sebutan Kebun Binatang. Obyek wisata ini dibangun tahun 1900 oleh seorang berkebangsaan Belanda yang bernama Controleur Strom Van Govent yang berkebangsaan Belanda. Kemudian pada tahun 1929 dijadikan kebun binatang oleh Dr. J. Hock dan merupakan satu-satunya kebun binatang yang ada di Sumatera Barat, dan merupakan kebun binatang tertua di Indonesia. Di tengah lokasi wisata ini terdapat Museum Kebudayaan berbentuk rumah adat Minangkabau, Museum Zoologi dan tempat bermain anak-anak.
Baru masuk ke Kebun Binatang, kami disuguhi “atraksi” menakjubkan.
“Siiiirrrrr” Suara air kencing gajah, sepertinya air yang dikeluarkan bisa sampai 20 liter.
Berikutnya, ke Pasar Atas, pasar wisata di Bukittinggi, tempat membeli oleh-oleh berupa souvenir, songket ataupun makanan khas. Jika hendak belanja souvenir, pintar-pintarlah menawar, jangan takut untuk menawar sepertiga dari harga yang disebutkah oleh penjual. Jika penjual tidak setuju dengan harga yang kita tawar, cobalah untuk beranjak sedikit meninggalkan penjual dan dia pun kembali memanggil anda pertanda menyetujui harga yang ditawarkan. Jika belanja makanan, kita tidak bisa menawar karena harganya memang sudah murah, tapi bisa meminta bonus (makanan tambahan).
Dari pagi sampai jam 3 sore keliling Bukittinggi, cukup lelah. Kami pun kembali beristirahat di penginapan, tidur sore.
Sehabis sholat magrib, kami kembali ke Jam Gadang, untuk mengabadikan gambar melalui kamera bahwa kami berempat pernah kesini. Juga mencari makan malam, lagi-lagi KFC. Tapi tak apalah dari pada tidak makan sama sekali, karena kami akan menempuh perjalanan darat 5 jam menuju ke Pekanbaru sebentar lagi.
Perjalan pulang berlangsung lancar. Jam 3 pagi kami telah tiba di Pekanbaru. Sebuah perjalanan wisata yang menyenangkan.
FOTO-FOTO LAINNYA



















manga indak ka singkarak di..
disinan tu nan rancak…
poto danau dr dakek jg indak ado…
k pantai tiku jg rancak lho di..
daket tu kampuang awak..
jauh bana ka singkarak, dak takajoa jo wakatu doh. beko2 lah bulan juni apo juli, lai tour de singkarak, pai nonton awak ni?
inilah bedanya penulis dan penyampah xixixixixixixixi
penulisnya : aldi ?
penyampahnya : ega? kasihan banget ya ji….heheeheheeh
itu yang foto kelok 43 sekalian jadi tim sukses yah..
hehehe. tuh dia, setiap papan kelokan, foto yg mejeng itu doank… maklum sumbar kan dalam waktu dekat ad pilkada bersama….
jadi pengen jalan-jalan
hehehe..bagus bgt ya…
nice story, brader…
salam kenal dari pratama bangkinang
pengen banget ke sumatra..