25 April 2010, Muara Takus, Great !!!
Tepat, 6 bulan sejak perjalanan yang tertunda (baca tulisan sebelumnya), pertualangan ke Muara Takus pun terlaksana. Karena bosan dengan weekend yang biasa-biasa saja, muncullah niat untuk ke Muara Takus.
Jam 8.30 berangkat dari rumah, dengan teman yang sama ketika ke Bangkinang 6 bulan lalu. Jam 8.30 berangkat dari rumah, baru 10 menit perjalan, tiba-tiba kami diguyur hujan, untung bawa mantel hujan dan perjalanan pun bisa diteruskan. Menurut informasi yang saya kumpulkan dari internet, perjalanan ke Muara Takus sejauh 135 km bisa ditempuh dalam waktu 3 jam dari Pekanbaru.
Perjalanan kali ini, saya lebih sering memacu si BH di kecepatan 70-80 km/jam, serasa pembalap, karena saya sangat jarang mengendarai motor sampai kecepatan tersebut. Perjalanan ke Bangkinang berjalan lancar, tepat 1 jam perjalanan kami telah tiba di Bangkinang, itu artinya perjalanan masih 2 jam lagi untuk sampai di Muara Takus.
Menurut petunjuk yang kami baca dari internet, dari Bangkinang ke Muara Takus dapat ditempuh melalui jalan lintas propinsi, arah ke Payakumbuh. Okelah perjalanan berlanjut, sedikit was-was kalau saja nyasar. Kata Ega “Kalo nyasar berarti kita jalan-jalan”
Sepanjang 2 Jam tersebut, banyak hal yang menarik tak luput dari pantauan kami. Yang menarik adalah saat melewati PLTA Koto Panjang, sebuah danau buatan yang mensuplai persedian Listrik sebagian dari wilayah Riau. Danau ini ternyata terbentang dari Koto Panjang hingga Muara Takus, sungguh sangat luas, entah berapa hektar desa yang harus “ditenggelamkan” untuk membuat danau ini. Mulai dari Koto Panjang, perjalanan berkelok dan sungguh menantang. Betapa tidak, saat hujan, yang membuat kami harus berkali-kali melepas dan menggunakan mantel, udara dingin, jalan yang berliku, di sisi kirinya ada jurang yang sangat curam, disisi kanan ada tebing batu yang “bisa saja longsor”. Sedikit gemetar dan was-was.
Menjelang masuk Muara Takus, ada sebuah persimpangan dengan sebuah penunjuk jalan bahwa kami harus belok ke kanan untuk bisa menuju ke Komplek Percandian. Dari simpang tiga itu pun kami masih bisa melihat danau buatan Koto Panjang.
Kemudian, jam setengah 12 siang, tibalah kami di Muara Takus. Great !!! Luar biasa, walaupun hanya sebuah komplek kecil, tapi hasrat saya untuk bisa menikmati satu lagi candi di Sumatera, terkabul.
“Candi nya batu merah ya? Ini peninggalan kerajaan apa?” tanya Ega penasaran. Bak seorang guide, saya pun menjelaskan detail ke dia “ ini peninggalan kerajaan Sriwijaya, setauku hanya ada 2 Komplek Candi di Sumatera, satu di Muara Jambi dan satu lagi Muara Takus ini” (klik disini jika ingin membaca tentang Komplek Percandian Muara Jambi)
Dari pengamatan kami, kawasan ini sedikit lebih tertata dibandingkan Komplek Percandian Muara Jambi. Hanya saja banyak kerbau berkeliaran, dan kotorannya yang “setia” dikawasan percandian. Kekaguman saya pertama adalah kepada candi yang berbentuk menara, yang disebut Candi Mahligai, bangunan ini lah yang selalu muncul di buku pelajaran Sejarah atau Geografi jika sebuah tulisan mendeskripsikan tentang Komplek Percandian Muara Takus.
Disini, saya lebih banyak mengambil objek foto bangunan-bangunan candi sekaligus mengagumi mahakarya bangunannya. Walaupun sudah dipugar (saya yakin 80 persen adalah hasil pugar), tapi tetap eksotis.
Hanya satu jam berada disini, setelah itu kami langsung memacu motor kembali ke Pekanbaru. Perjalanan pulang lancar-lancar saja, jauh terasa lebih cepat dibandingkan perjalan pergi tadi. Sekitar jam 2 menjelang masuk Bangkinang, kami makan siang di sebuah pondok soto padang, slurp… rasa rempah nya mampu menghangatkan tubuh kami, ditambah es teh yang menyegarkan tenggorokan.
Dalam perjalanan pulang ini, saya sempat istirahat tidur sekitar 15 menit di sebuah masjid di KM 50 ke Pekanbaru, mata benar-benar tidak bisa di ajak kompromi, ditambah lagi pinggang yang benar-benar pegal karena kelamaan duduk di motor.
Jam 5 sore, tiba di Pekanbaru, sebuah perjalanan yang sangat mengasyikan, dan penuh pengalaman.




