Menumbuhkan “RASA KE-KITA-AN” Melalui ASEAN Inter-Parliamentary Assembly Dalam Menyonsong ASEAN Community by 2020

Posted: 28 April 2009 in Humaniora Ekonomi Indonesia

Logo AseanTerjadinya transfomasi AIPO (ASEAN Inter-Parliamentary Organization) menjadi AIPA (ASEAN Inter-Paliamentary Assembly) merupakan keinginan bersama para anggota AIPO untuk lebih memperkuat dan meningkatkan peranannya yang lebih luas dalam kerjasama regional di masa mendatang, mengingat semakin banyaknya isu nasional, regional, dan internasional yang memerlukan penanganan bersama. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Agung Laksono pada Antara News tanggal 17 April 2007 mengatakan bahwa perubahan status tersebut bertujuan untuk memperkuat dan meningkatkan semangat agar kerjasama parlemen di Asia Tenggara semakin erat.

Apakah hubungan antara lahirnya AIPA terhadap ASEAN Community by 2020? Walaupun berubah status, namun tujuan AIPA tidak jauh berbeda dengan tujuan AIPO sebelumnya. Salah satunya adalah memfasilitasi pencapaian tujuan ASEAN sebagaimana tercantum dalam ASEAN Declaration 1967 serta ASEAN Vision 2020 Declaration of ASEAN Concord II yang lebih dikenal dengan Bali Concord II yaitu ASEAN sebagai “negara-negara Asia Tenggara yang bersatu, yang melihat keluar, hidup dalam perdamaian, stabilitas dan kesejahteraan”, yang bersama-sama terikat dalam suatu kemitraan pembangunan dinamis serta dalam suatu komunitas masyarakat yang saling peduli. Bali Concord II merupakan Blue Print (Cetak Biru) pembentukan komunitas ASEAN yang mampu mencapai tujuan bersama pada waktunya. Komunitas ASEAN akan tercipta jika tiga pilar ASEAN Community yaitu : ASEAN Economic Community (AEC), ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC) dan ASEAN Security Community (ASC), berhasil diwujudkan.

Untuk mencapai sebuah komunitas ASEAN, perlu berbagai upaya untuk menyatukan negara-negara ASEAN, AIPA hadir menjembatani hal tersebut. AIPA tentu bukanlah sekedar organisasi semata, dengan agenda pertemuan tahunan yang seremonial belaka. AIPA diharapkan mampu menumbuhkan “rasa ke-kita-an” antar negara ASEAN, serta mempunyai kekuatan di kawasan Asia Tenggara.

Mantan Presiden Republik Indonesia Megawati Soekarno Putri dalam pidato sambutan pada Pembukaan Pertemuan Tingkat Menteri ASEAN ke-37 menyatakan bahwa “rasa ke-kita-an” perlu ditanamkan untuk menciptakan ASEAN Community by 2020. ASEAN Economic Community (AEC) sebagai bagian dari ASEAN Community dapat terwujud jika proses integrasi ekonomi di lingkungan ASEAN telah mampu menciptakan kawasan perekonomian yang stabil, sejahtera dan memiliki daya saing yang kuat di dunia. AIPA turut menjadi wadah konsolidasi Parlemen-Parlemen ASEAN dalam mewujudkan komunitas ekonomi ASEAN. Berbagai kesepakatan dan kesepahaman yang dapat dicapai melalui AIPA, terkait dalam mewujudkan komunitas ekonomi antara lain inisiatif kerjasama yang terkait dengan masalah fasilitas perdagangan, akses pasar dan investasi antar negara-negara ASEAN. Sehingga kawasan ASEAN akan menjadi kawasan bebas arus keluar masuk barang, jasa dan investasi serta memiliki tingkat

pembangunan ekonomi yang merata. Tidak akan ada kesenjangan pembangunan yang berarti antar negara-negara ASEAN. Masalah kemiskinan yang menjadi hal mendasar dapat dituntaskan.

Untuk mewujudkan ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC), AIPA memiliki peran penting untuk mencapai inisiatif bersama dalam mengatasi berbagai permasalahan pertumbuhan penduduk, pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia, pencegahan serta pengawasan penyebaran wabah penyakit,

penurunan kualitas lingkungan dan polusi lintas batas. Sebagai komunitas sosial

budaya. Negara-negara ASEAN diharapkan mampu menarik benang merah dari keanekaragaman budaya di Asia Tenggara dan akan lebih mampu menghargai identitas nasional satu sama lain. Guna mewujudkan semua itu pula, kita harus menciptakan “rasa ke-kita-an” yang begitu penting bagi manusia dalam membentuk sebuah komunitas.

Sebagai ASEAN Security Community (ASC), AIPA memfasilitasi mencapai inisiatif bersama untuk meningkatkan kerjasama di bidang politik dan keamanan sehingga negara-negara ASEAN dapat bertanggung jawab sepenuhnya dalam mengatasi segala bentuk ancaman terhadap keamanan kawasan ASEAN seperti gerakan sparatis dan teroris. Kemudian memperkuat dan memperluas kerjasama politik sehingga negara-negara ASEAN dapat meningkatkan kapasitas guna diplomasi preventif, penyelesaian politik, dan pembangunan pasca-konflik. Karena itulah, perlunya “rasa ke-kita-an” yang lebih besar sehingga negara-negara ASEAN dapat menyelesaikan segala sengketa secara damai dan bersahabat, meskipun isu yang dibahas sangat sensitif. Negara-negara ASEAN harus dapat berdialog secara terbuka dan jujur, bahkan mengenai masalah internal atau isu dalam negeri yang jika tidak diselesaikan, bisa berdampak buruk terhadap kawasan. Sehingga kawasan Asia Tenggara bukan saja bebas tetapi juga mampu mengelola sengketa dengan arif. Dengan demikian, komunitas keamanan ASEAN akan menjadi instrumental bagi pembentukan sebuah tertib kawasan yang dewasa.

AIPA dan “rasa ke-kita-an”

Sebagai suatu persatuan parlemen-parlemen negara-negara ASEAN, AIPA berperan penting dalam menumbuhkan “rasa ke-kita-an”. Melalui AIPA, dicapailah suatu kesepahaman atas resolusi-resolusi bersama. Melalui AIPA, disepakatilah suatu inisiatif legislasi bersama. Dengan keberadaan Sekretaris Jenderal AIPA yang dipilih untuk periode tiga tahunan, rasa kebersamaan sebagai suatu komunitas ASEAN semakin kuat. Dengan “rasa ke-kita-an”, kerjasama dan kesepahaman antar negara-negara ASEAN semakin meningkat, penyebaran informasi semakin cepat, rasa kepedulian antar negara semakin meningkat, serta banyak hal positif lain yang didapatkan dari tumbuhnya “rasa ke-kita-an” yang dapat diwujudkan melalui AIPA.

Dengan “rasa ke-kita-an”, tiga pilar ASEAN Community, yaitu ASEAN Economic Community (AEC), ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC) dan ASEAN Security Community (ASC) dapat terwujud. Dengan terwujudnya tiga pilar tersebut, sempurnalah sebuah ASEAN Community sebagaimana yang dicanangkan pada Bali Concord II.

Mengutip kalimat yang diucapkan Mantan Presiden Republik Indonesia, Megawati Soekarno Putri saat membuka Pertemuan Tingkat Menteri ASEAN ke-37, “Jangan lantas kita menyembunyikan kelemahan-kelemahan kita (baca : ASEAN) ; mari kita wujudkan kekuatan kita dengan menjadi sebuah komunitas sebagaimana telah kita umumkan”. [Aldi Amdefi]

Komentar
  1. Metal mengatakan:

    wah ruwet banget

  2. Metal mengatakan:

    tapi lumayan bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s