Oleh: Aldi Amdefi | 12 Desember 2009

KISAH ALDI DAN PAPA TERSAYANG

Sudah sangat lama aku tidak pernah menulis di blog ini, banyak hal yang membuatku “menganggurkan”-nya. Awalnya blog ini dibuat sebagai blog humaniora ilmiah, yang isinya tentulah tentang analisis atau cerita terhadap objek humaniora, seperti tentang narkoba dan ASEAN, atau tentang pesona dataran tinggi kerinci, ataupun catatan perjalanan aku ke komplek percandian terluas di Indonesia, atau juga tentang kisah inspiratif. Kesibukan di pekerjaan, dan kesulitan mendalami materi dari objek humaniora yang akan di-blog-an, membuat blog ini terkesan “kurang diurus”.

Sudah 3,5 bulan aku tinggal di Pekanbaru, aku pindah tugas dari Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jambi sebagai pegawai magang, ke Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pekanbaru Tampan sebagai pegawai benaran. Kedepannya blog ini dapat “hidup” lagi, dalam waktu dekat aku akan menyajikan kisah tentang “ New Metropolitan : Pekanbaru” dan catatan perjalanan ke Candi Muara Takus di Kabupaten Kampar Propinsi Riau. Termasuk juga foto-foto menarik dari catatan perjalanan tersebut. Dalam laptop kesayanganku, sudah lama terpendam referensi tulisan tentang musik , aku berharap agar bisa menyajikan tulisan analisis tentang musik, seni musik lebih tepatnya.

Menjadikan blog ini sebagai blog ilmiah, bukan berarti mengabaikan kesan santai, bukan berarti antipati terhadap blog personal yang mengisahkan kehidupan pribadi, toh setiap orang punya prinsip dan pandangan berbeda. Aku tidak keberatan jika aku dikategorikan sebagai orang yang tertutup tentang kehidupan pribadi. Namun, bolehlah, kiranya ikut bercerita tentang kehidupanku, untuk aku toreh-kan di blog ini, untuk dibagikan kepada teman-teman pembaca, juga sebagai bahan renungan.

Ini kisah tentang aku dan Papa. Papa lahir pada 13 Februari 1960, sebagai anak ke-7 dari 8 bersaudara dari kedua orang tua yang bekerja sebagai petani. Papa mempunyai 5 kakak laki-laki dan 1 kakak perempuan, serta 1 adik perempuan, Papa adalah anak laki-laki paling bungsu. Sejak kecil, Papa hidup di sebuah desa di Batu Kambing, jika dicari di peta propinsi Sumatera Barat, nama desa itu tidak tercantum. Desa tersebut berjarak 20 km dari Lubuk Basung , ibukota Kabupaten Agam di Sumatera Barat. Tentulah aku tidak menyaksikan secara langsung masa kecil dan remajanya Papa, tapi aku bisa sedikit menceritakan masa kecilnya dari kisah-kisah yang ia ceritakan ke aku. Baca Lanjutannya…

Logo AseanTerjadinya transfomasi AIPO (ASEAN Inter-Parliamentary Organization) menjadi AIPA (ASEAN Inter-Paliamentary Assembly) merupakan keinginan bersama para anggota AIPO untuk lebih memperkuat dan meningkatkan peranannya yang lebih luas dalam kerjasama regional di masa mendatang, mengingat semakin banyaknya isu nasional, regional, dan internasional yang memerlukan penanganan bersama. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Agung Laksono pada Antara News tanggal 17 April 2007 mengatakan bahwa perubahan status tersebut bertujuan untuk memperkuat dan meningkatkan semangat agar kerjasama parlemen di Asia Tenggara semakin erat.

Apakah hubungan antara lahirnya AIPA terhadap ASEAN Community by 2020? Walaupun berubah status, namun tujuan AIPA tidak jauh berbeda dengan tujuan AIPO sebelumnya. Salah satunya adalah memfasilitasi pencapaian tujuan ASEAN sebagaimana tercantum dalam ASEAN Declaration 1967 serta ASEAN Vision 2020 Declaration of ASEAN Concord II yang lebih dikenal dengan Bali Concord II yaitu ASEAN sebagai “negara-negara Asia Tenggara yang bersatu, yang melihat keluar, hidup dalam perdamaian, stabilitas dan kesejahteraan”, yang bersama-sama terikat dalam suatu kemitraan pembangunan dinamis serta dalam suatu komunitas masyarakat yang saling peduli. Bali Concord II merupakan Blue Print (Cetak Biru) pembentukan komunitas ASEAN yang mampu mencapai tujuan bersama pada waktunya. Komunitas ASEAN akan tercipta jika tiga pilar ASEAN Community yaitu : ASEAN Economic Community (AEC), ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC) dan ASEAN Security Community (ASC), berhasil diwujudkan. Baca Lanjutannya…

Peta Situs Muara Jambi

Peta Situs Muara Jambi

Keberadaan kompleks percandian ini menjadi bukti bahwa sekitar abad 4-5 Masehi, Kerajaan Malayu (Melayu Tua yang bercorak Budha) pernah beribu kota di Muara Jambi. Situs yang terletak sekitar 500 meter dari Sungai Batang Hari ini memiliki luas 155.269,58 hektar, sepuluh kali lebih luas dari situs borobudur, keberadaannya seperti tersembunyi dari peradaban. Bangunan-bangunan candi dan bekas reruntuhannya menunjukkan bahwa di masa lalu situs Percandian Muaro Jambi pernah menjadi pusat peribadatan. Terdapat petunjuk kuat dari peninggalan yang ditemukan bahwa Percandian Muaro Jambi adalah pusat peribadatan agama Budha Tantri Mahayana (Tantrayana). Bayangkan jika suatu saat, seluruh gundukan candi (80 buah) dan menapo (gundukan tanah yang merupakan bangunan purba) dipugar seperti keadaan pada masa lalu, parit disekitar candi di “re-build”, kanal kuno atau sungai buatan zaman itu — (Sungai Amburan Jalo, Sungai Terusan, Sungai Berembang, Parit Sungai Medak, Sungai Melayu, parit Johor, Parit Sekapung, Sungai Jambi) — digali, diairi sehingga dapat dilalui oleh kapal-kapal kecil dalam menjelajah situs terluas di Indonesia itu, yang akan membawa kita menuju ke masa kuno ketika itu. ARTIKEL LEBIH LENGKAP DAN FOTO-FOTO SITUS MUARA JAMBI, SILAHKAN KLIK DISINI

IF you are cold, tea will warm you.

If you are too heated, it will cool you.

If you are depressed, it will cheer you.

If you excited, it will calm you.

(Pakar teh dunia dari Inggris, WE Gladstone, 1865).

Hijaunya bagaikan bentangan permadani

Hijaunya bagaikan bentangan permadani

Perkebunan teh dalam satu hamparan yang terluas di dunia ternyata ada di Indonesia, yaitu di Kayu Aro, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, sekitar 452 km sebelah barat Kota Jambi. Lokasi tepatnya, nun jauh di sana, di kaki sebelah selatan Gunung Kerinci, gunung tertinggi di Sumatera (3.805 meter dari permukaan laut). Mata kami seperti tak ingin berkedip saat melintasi perkebunan teh Kajoe Aro yang dibuka sejak tahun 1925 M. Baca Lanjutannya…

Anak-anak dari Suku Anak Dalam

Anak-anak dari Suku Anak Dalam

Tak banyak yang diminta oleh Suku Anak Dalam. Karena cintanya terhadap alam, hanya satu harapan mereka kepada pemerintah, yakni melindungi hutan tempat tinggal mereka.

Sekelompok pria dan wanita nyaris (maaf) bertelanjang tampak santai berjalan tanpa alas kaki menyusuri hutan. Mereka hanya mengenakan selembar kain untuk menutup bagian vital. Sebagian perempuan juga membiarkan (maaf) dada mereka. Kulit mereka gelap dan tampak kasar akibat terkena sinar matahari dan hawa dingin secara bergantian setiap hari. Itulah gambaran orang rimba. Warga Suku Kubu yang dikenal dengan Suku Anak Dalam sebagai Komunitas Adat Terpencil di Provinsi Jambi. Baca Lanjutannya…

prediksi uhang pandak (bahasa Indonesia :orang pendek) menurut warga setempat

Orang Pendek adalah misteri sejarah alam terbesar di Asia; ahli binatang telah mendaftarkan laporan kera misterius di wilayah Taman Nasional Kerinci Seblat, Propinsi Jambi, lebih dari 150 tahun. Sampai hari ini, binatang yang di Kerinci dikenal sebagai “uhang pandak”, tetapi juga karena variasi yang membingungkan dari nama dialek setempat, sampai sekarang masih belum teridentifikasi oleh ilmuwan. Baca Lanjutannya…

Kategori