Dedikasi 18 tahun ibu Syamsinar.

Posted: 15 September 2011 in Uncategorized

Siapa sangka, sosok ibu yang menjadi teman saya ketika SD, muncul di Kick Andy Metro TV episode “Bukan Tenaga Medis Biasa” Jumat 2 September 2011. Suaminya adalah Muhammad Nur (almarhum) , saya biasa memanggilnya Pak M. Nur. Istrinya adalah Syamsinar Rasyad, jujur, saya baru tahu nama lengkap si ibu sewaktu menonton Kick Andy episode itu. Dulu, saya biasa memanggilnya bu M. Nur.

Sekolah Dasar Nomor 88/IV Kota Jambi, di Kelurahan Tahtul Yaman, Kecamatan Pelayangan, Jambi seberang kota — tempat saya sekolah selama 4 tahun, dari kelas 2 di pertengahan tahun 1994 hingga kelas 5 dipertengahan tahun 1998.  Di sekolah itu, suami bu Syamsinar menjadi kepala sekolah. Di sekolah itu juga, papa bekerja sebagai guru selama 4 tahun.

Jika papa sedang rapat dalam waktu lama, maka yang membuat saya harus menunggu agar bisa pulang naik motor. Sebenarnya jarak sekolah dengan rumah tidak terlalu jauh. Tapi saat saya lagi malas pulang jalan kaki dan memilih menunggu papa selesai rapat, saya sering main ke warung bu Syamsinar. Yang masih ingat oleh saya, ibu Syamsinar adalah orang yang sangat ramah. Saya sering mampir ke warung kecil tempat ibu Syamsinar berjualan makanan yang berada disamping sekolah, sekedar mengobrol, kalau lagi beruntung saya bisa memperoleh kue atau snack ringan gratis dari bu Syamsinar. Terkadang, saya bermain sambil menonton tv di ruang tamu rumah bu Syamsinar, yang berada tepat disamping sekolah.

Yang saya ketahui dulu, kalau bu Syamsinarmenyediakan obat-obatan gratis dari WHO untuk penderita TBC. Karena etek (tante, adik papa) dan seorang teman dekat papa, pernah dibantu oleh bu Syamsinar.

Ini adalah artikel dari Website Kick Andy yang menceritakan profil singkat dari kisah bu Syamsinar.

Kisah lain datang  dari  Jambi.  Tentang Syamsinar  Rasyad,  perempuan   berusia 58 tahun, yang  sudah 20 tahun mengabdi  sebagai  seorang relawan dari Perkumpulan Pemberantas Tuberkulosis Indonesia (PPTI). Umi, panggilan akrab ibu Syamsinar,  setiap hari ia selalu berkeliling kampung untuk mencari penderita TBC,  meskipun ia bukan seorang tenaga peramedis.  Tak jarang ia harus bejalan jauh untuk menemui pasien-pasiennya.  Selain menemui langsung para pasien, ia juga melakukan sosialisasi dari mesjid ke mesjid, menghimbau agar para penderita tuberculosis, untuk mau didampingi untuk berobat di klinik PPTI.

Tak jarang  Syamsinar mendapat cibiran dari masyarakat, terhadap  apa  yang dilakukannya. Meski  demikian,  Syamsinar  tak patah  arang.  Hingga saat ini ia sudah menolong sedikitnya 185 orang yang sembuh dari TBC. Artinya, setiap tahun ia menyelamatkan jiwa rata-rata 10 orang atau lebih. “Dulu  ada orang  petani  yang  kena TBC  parah, setelah mengkuti  pengobatan dia sembuh. Sekarang  kebun kelapa sawitnya dah  10 hektar,”  papar  Syamsinar  tentang  salah  satu pasiennya. “Dan itu yang membuat saya  bangga  untuk terus mengabdi,” tambahnya.

(sumber : http://www.kickandy.com/theshow/1/1/2166/read/BUKAN-TENAGA-MEDIS-BIASA)

Siapa sebenarnya bu Syamsinar, hingga saya menceritakannya ke dalam blog? Tulisan berikut ini saya salin dari website Perkumpulan Pemberantasan Tuberkolosis Indonesia (PPTI) tempat bu Syamsinar menjadi sukarelawan. Baca entri selengkapnya »

Apa, Kenapa, Bagaimana

Bagi beberapa orang, istilah geraham bungsu terdengar asing. Bahkan ada yang mengatakan kalau geraham bungsu itu adalah geraham susu (seperti gigi susu yang tumbuh pada usia anak-anak). Sebenarnya, geraham bungsu itu adalah gigi terakhir yang tumbuh, pada usia 18-23 tahun.

Jumlah gigi pada manusia dewasa terdiri atas 8 buah gigi seri, 4 buah gigi taring, dan 20 buah gigi geraham. Jika dibuat gambaran seperti dibawah ini

Susunan Gigi Orang Dewasa

Rahang Atas :       M3-M2-M1-PM2-PM1-C-LI-CI-CI-LI-PM1-PM2-M1-M2-M3

Rahang Bawah  : M3-M2-M1-PM2-PM1-C-LI-CI-CI-LI-PM1-PM2-M1-M2-M3

Keterangan :

CI : Centra Incisor (Gigi seri besar)

LI : Lateral Incisor (Gigi seri kecil)

C : Canine (Gigi taring)

PM1 : Premolar 1 (Geraham kecil depan)

PM2 : Premolar 2 (Geraham kecil belakang)

M1 : Molar 1 (Geraham besar depan)

M2 : Molar 2 (Geraham besar tengah)

M3 : Molar 3 (Geraham besar belakang)

Pada usia beranjak remaja, gigi manusia hanya 28 buah (hanya sampai M2). Sementara Molar 3 tumbuh saat usia menginjak dewasa, karena itu Molar 3 atau Geraham bungsu sering disebut Wisdom Teeth, gigi yang tumbuh diusia dewasa.

Gigi bungsu termasuk dalam kategori struktur vestigial, yaitu struktur yang fungsi awalnya menjadi hilang atau berkurang sejalan dengan evolusi. Salah satu contoh struktur vestigial lainnya adalah tulang ekor pada manusia, kelopak mata ketiga (Pilica Semilunaris), bulu, dan umbai cacing (Appendix).

Pertumbuhan geraham bungsu tidak menjadi masalah jika terdapat ruang yang cukup di rahang untuk tempat tumbuhnya geraham bungsu. Tapi, jika tidak tersedia ruang yang cukup untuk tumbuh gigi pada rahang, maka geraham bungsu akan tumbuh tidak wajar seperti tumbuh horizontal (menyamping) yang akan mendesak geraham disebelahnya sehingga merusak geraham yang didesak itu, jika tumbuh agak kedalam bisa merusak akar geraham disampingnya. Geraham bungsu bisa saja tumbuh vertical ke bawah, ini bisa merusak jaringan gigi dan tulang lunak pada rahang. Pertumbuhan tidak sempurna juga bisa membentuk kista dan tumor pada rahang.

Impaksi Geraham Bungsu

Faktor keturunan menjadi masalah pertumbuhan geraham bungsu. Misalkan saja seorang anak dari ayah yang mempunyai rahang besar dan ukuran gigi besar dan ibu yang mempunyai rahang kecil dan gigi kecil berkemungkinan akan membwa sifat gabungan dari orang tua. Tidak masalah jika si anak mempunya rahang besar dan ukuran gigi kecil sehingga masih memiliki cukup ruang pada rahang untuk tempat tumbuh gigi bungsu. Akan menjadi masalah jika si anak mempunyai rahang kecil dan gigi besar yang akibatnya ruang tempat tumbuhnya geraham bungsu tidak ada – kondisi seperti ini yang saya alami. Ada juga yg mengkaitkan pertumbuhan tidak normal dari gigi bungsu karena pola makan yang lunak sehingga tumbuh kembang rahang tidak terstimulir dengan baik.

Selain keluhan sakit gigi dan peradangan gusi/gigi, masih ada beberapa gejala lain yang timbul dari permasalahan gigi bungsu seperti sakit kepala yang tidak jelas sumbernya, telinga berdengung, sakit leher, bahkan terbentuknya kista pada rongga dalam rahang. Saya sendiri sering mengalami sakit kepala, bahkan terkadang seperti mau pingsan, katanya ini bisa jadi muncul dari efek geraham bungsu yang tumbuh abnormal dan menekan syaraf. Baca entri selengkapnya »

“Sumatera Barat itu ibaratkan sekeping surga yang jatuh ke dunia” Jero Wacik (Menteri Pariwisatakan bahwa, Seni, dan Budaya).

Go To Bukittinggi

Jumat (7 Mei 2010), kami (Saya, Rizal, Ega, Icha) menuju ke Bukittinggi. Dengan Panther (travel), pukul 21.00 kami meninggalkan Pekanbaru. Perjalanan saya ke Bukittinggi, ini untuk pertama kali sejak tinggal di Pekanbaru. Terakhir ke Bukittinggi, saat umur 6 tahun, memori masa itupun sudah banyak lupa.

Perjalanan kami ke Bukitinggi tidak berjalan mulus, travel yang kami tumpangi mengalami dua kali tabrakan kecil. Pertama saat di Bangkinang, sebuah motor menabrak bodi belakang Panther sehingga membuat bemper belakang sedikit naik. Kedua, satu jam kemudian, bodi belakang kembali di tabrak, untung tidak terjadi apa-apa dengan kami.

Pukul 3 pagi tiba di Bukittinggi, kami menuju penginapan yang sudah di pesan sebelumnya, dekat Jam Gadang, dan objek wisata lainnya. Penginapannya bersih, murah, aman, hanya 150 ribu rupiah per malam, ada TV dan kamar mandi di dalam, bisa diisi untuk 2 orang. Kamar cewek tepat disebelah kamar saya dan Rizal. Kamar mereka lebih luas 1,5 kali dari kamar kami.

Tentang penginapan, tidak usah khawatir karena disini banyak hotel melati yang aman, nyaman, murah, semua dekat dengan objek wisata. Tapi jika ingin menginap saat long weekend, baiknya dipesan terlebih dahulu.

Pertualangan Hari Pertama, Dimulai !


Tujuan pertama adalah Danau Maninjau, sebuah danau di kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam 36 kilometer dari Bukittinggi. Menurut wikipedia, danau ini merupakan danau vulkanik yang berada di ketinggian 461,50 meter di atas permukaan laut dengan luas sekitar 99,5 km² dan memiliki kedalaman maksimum 495 meter. Cekungannya terbentuk karena letusan gunung yang bernama Sitinjau, hal ini dapat terlihat dari bentuk bukit sekeliling danau yang menyerupai seperti dinding.

Baca entri selengkapnya »

Ini adalah sebuah kutipan pidato, Sri Mulyani Indrawati, sosok yang saya kagumi, sejak dia menjadi menteri di departemen saya

- – - – - – - – - – - – - – - – -

sri mulyani

sosok yang berani, cerdas, idealis, yang membuat saya bangga

Saya rasanya lebih berat berdiri disini daripada waktu dipanggil pansus Century. Dan saya bisa merasakan itu karena sometimes dari moral dan etikanya jelas berbeda. Dan itu yang membuat saya jarang sekali merasa grogi sekarang menjadi grogi. Saya diajari pak Marsilam untuk memanggil orang tanpa mas atau bapak, karena diangap itu adalah ekspresi egalitarian. Saya susah manggil ‘Marsilam’, selalu pakai ‘pak’, dan dia marah. Tapi untuk Rocky saya malam ini saya panggil Rocky (Rocky Gerung dari P2D) yang baik. Terimakasih atas…… (tepuk tangan)

Tapi saya jelas nggak berani manggil Rahmat Toleng dengan Rahmat Tolengtor, kasus. Terimakasih atas introduksi yang sangat generous. Saya sebetulnya agak keberatan diundang malam hari ini untuk dua hal. Pertama karena judulnya adalah memberi kuliah. Dan biasanya kalau memberi kuliah saya harus, paling tidak membaca textbook yang harus saya baca dulu dan kemudian berpikir keras bagaimana menjelaskan. Baca entri selengkapnya »

25 April 2010, Muara Takus, Great !!!

Tepat, 6 bulan sejak perjalanan yang tertunda (baca tulisan sebelumnya), pertualangan ke Muara Takus pun terlaksana. Karena bosan dengan weekend yang biasa-biasa saja, muncullah niat untuk ke Muara Takus.

Jam 8.30 berangkat dari rumah, dengan teman yang sama ketika ke Bangkinang 6 bulan lalu. Jam 8.30 berangkat dari rumah, baru 10 menit perjalan, tiba-tiba kami diguyur hujan, untung bawa mantel hujan dan perjalanan pun bisa diteruskan. Menurut informasi yang saya kumpulkan dari internet, perjalanan ke Muara Takus sejauh 135 km bisa ditempuh dalam waktu 3 jam dari Pekanbaru.

Perjalanan kali ini, saya lebih sering memacu si BH di kecepatan 70-80 km/jam, serasa pembalap, karena saya sangat jarang mengendarai motor sampai kecepatan tersebut. Perjalanan ke Bangkinang berjalan lancar, tepat 1 jam perjalanan kami telah tiba di Bangkinang, itu artinya perjalanan masih 2 jam lagi untuk sampai di Muara Takus.

Menurut petunjuk yang kami baca dari internet, dari Bangkinang ke Muara Takus dapat ditempuh melalui jalan lintas propinsi, arah ke Payakumbuh. Okelah perjalanan berlanjut, sedikit was-was kalau saja nyasar. Kata Ega “Kalo nyasar berarti kita jalan-jalan”

Sepanjang 2 Jam tersebut, banyak hal yang menarik tak luput dari pantauan kami. Yang menarik adalah saat melewati PLTA Koto Panjang, sebuah danau buatan yang mensuplai persedian Listrik sebagian dari wilayah Riau. Danau ini ternyata terbentang dari Koto Panjang hingga Muara Takus, sungguh sangat luas, entah berapa hektar desa yang harus “ditenggelamkan” untuk membuat danau ini. Mulai dari Koto Panjang, perjalanan berkelok dan sungguh menantang. Betapa tidak, saat hujan, yang membuat kami harus berkali-kali melepas dan menggunakan mantel, udara dingin, jalan yang berliku, di sisi kirinya ada jurang yang sangat curam, disisi kanan ada tebing batu yang “bisa saja longsor”. Sedikit gemetar dan was-was. Baca entri selengkapnya »

25 Oktober 2009. Niat Tertunda di Bangkinang.

Baru 2 Minggu motor kesayangan saya (BH 2969 HH, nomor plat Jambi) berada di Pekanbaru, saya coba memberanikan untuk mengendarainya ke luar kota walaupun wilayah Pekanbaru belum saya kuasai. Dengan didampingi seorang teman senasib sepenanggungan seperatauan (maaf kalo agak sedikit berlebihan) yang baru 2 bulan saya kenal, Ega, kami beranikan diri untuk ke Muara Takus. Berbekal informasi dari internet, hari minggu itu kami meninggalkan Pekanbaru, jam 9 berangkat dari rumah saat gerimis reda, melewati batas wilayah kota tertulis plang hijau “Bangkinang 85 km”.

Sepanjang jalan menuju Bangkinang, banyak pemandangan alam yang indah untuk dilihat. Sawah yang hijau menyejukkan mata, padang rumput dengan kombinasi kerbau, sapi, dan burung-burung kecil. Perjalanan ini kami tempuh dengan waktu 2 jam, (sebenarnya bisa ditempuh dengan 1 jam saja) karena banyak yang kami pandangi disepanjang perjalanan terpaksa melajukan si BH (motor) dengan kecepatan maksimal 60 km/jam, anggap saja menikmati perjalanan. Di desa air tiris, saya dan ega berhenti sejenak melepas lelah, kami mengunjungi objek wisata Rumah Adat kuno di desa Air Tiris, foto-foto sejenak, jepret-jepret, lalu lanjut lagi ke Bangkinang.

Rumah Kuno

Rumah Kuno

Atap rumah adatnya melengkung, seperti rumah adat minangkabau (rumah gadang/rumah bagonjong). Wajar karena Kabupaten Kampar berbatasan langsung dengan Kabupaten Payakumbuh di Sumatera Barat, jadi akulturasi melayu dan minang masih terasa. Baca entri selengkapnya »

Candi Muara Takus? Beberapa ada yang mengenalnya, paling tidak pernah mendengar nama. Di Sumatera, hanya terdapat 2 komplek percandian yaitu : Komplek Percandian Muara Jambi di Kabupaten Muara Jambi, Propinsi Jambi ; dan Komplek Percandian Muara Takus, di Kabupaten Kampar, Propinsi Riau. Banyak sumber yang menyatakan bahwa kedua komplek percandian ini adalah peninggalan Kerajaan Sriwijaya.

Komplek Percandian Muara Takus

Komplek Percandian Muara Takus

Komplek ini terdapat di desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar, sekitar 135 km dari Pekanbaru, ibukota Propinsi Riau. Baca entri selengkapnya »

Logo AseanTerjadinya transfomasi AIPO (ASEAN Inter-Parliamentary Organization) menjadi AIPA (ASEAN Inter-Paliamentary Assembly) merupakan keinginan bersama para anggota AIPO untuk lebih memperkuat dan meningkatkan peranannya yang lebih luas dalam kerjasama regional di masa mendatang, mengingat semakin banyaknya isu nasional, regional, dan internasional yang memerlukan penanganan bersama. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Agung Laksono pada Antara News tanggal 17 April 2007 mengatakan bahwa perubahan status tersebut bertujuan untuk memperkuat dan meningkatkan semangat agar kerjasama parlemen di Asia Tenggara semakin erat.

Apakah hubungan antara lahirnya AIPA terhadap ASEAN Community by 2020? Walaupun berubah status, namun tujuan AIPA tidak jauh berbeda dengan tujuan AIPO sebelumnya. Salah satunya adalah memfasilitasi pencapaian tujuan ASEAN sebagaimana tercantum dalam ASEAN Declaration 1967 serta ASEAN Vision 2020 Declaration of ASEAN Concord II yang lebih dikenal dengan Bali Concord II yaitu ASEAN sebagai “negara-negara Asia Tenggara yang bersatu, yang melihat keluar, hidup dalam perdamaian, stabilitas dan kesejahteraan”, yang bersama-sama terikat dalam suatu kemitraan pembangunan dinamis serta dalam suatu komunitas masyarakat yang saling peduli. Bali Concord II merupakan Blue Print (Cetak Biru) pembentukan komunitas ASEAN yang mampu mencapai tujuan bersama pada waktunya. Komunitas ASEAN akan tercipta jika tiga pilar ASEAN Community yaitu : ASEAN Economic Community (AEC), ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC) dan ASEAN Security Community (ASC), berhasil diwujudkan. Baca entri selengkapnya »

Peta Situs Muara Jambi

Peta Situs Muara Jambi

Keberadaan kompleks percandian ini menjadi bukti bahwa sekitar abad 4-5 Masehi, Kerajaan Malayu (Melayu Tua yang bercorak Budha) pernah beribu kota di Muara Jambi. Situs yang terletak sekitar 500 meter dari Sungai Batang Hari ini memiliki luas 155.269,58 hektar, sepuluh kali lebih luas dari situs borobudur, keberadaannya seperti tersembunyi dari peradaban. Bangunan-bangunan candi dan bekas reruntuhannya menunjukkan bahwa di masa lalu situs Percandian Muaro Jambi pernah menjadi pusat peribadatan. Terdapat petunjuk kuat dari peninggalan yang ditemukan bahwa Percandian Muaro Jambi adalah pusat peribadatan agama Budha Tantri Mahayana (Tantrayana). Bayangkan jika suatu saat, seluruh gundukan candi (80 buah) dan menapo (gundukan tanah yang merupakan bangunan purba) dipugar seperti keadaan pada masa lalu, parit disekitar candi di “re-build”, kanal kuno atau sungai buatan zaman itu — (Sungai Amburan Jalo, Sungai Terusan, Sungai Berembang, Parit Sungai Medak, Sungai Melayu, parit Johor, Parit Sekapung, Sungai Jambi) — digali, diairi sehingga dapat dilalui oleh kapal-kapal kecil dalam menjelajah situs terluas di Indonesia itu, yang akan membawa kita menuju ke masa kuno ketika itu. ARTIKEL LEBIH LENGKAP DAN FOTO-FOTO SITUS MUARA JAMBI, SILAHKAN KLIK DISINI

IF you are cold, tea will warm you.

If you are too heated, it will cool you.

If you are depressed, it will cheer you.

If you excited, it will calm you.

(Pakar teh dunia dari Inggris, WE Gladstone, 1865).

Hijaunya bagaikan bentangan permadani

Hijaunya bagaikan bentangan permadani

Perkebunan teh dalam satu hamparan yang terluas di dunia ternyata ada di Indonesia, yaitu di Kayu Aro, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, sekitar 452 km sebelah barat Kota Jambi. Lokasi tepatnya, nun jauh di sana, di kaki sebelah selatan Gunung Kerinci, gunung tertinggi di Sumatera (3.805 meter dari permukaan laut). Mata kami seperti tak ingin berkedip saat melintasi perkebunan teh Kajoe Aro yang dibuka sejak tahun 1925 M. Baca entri selengkapnya »

 

Tak banyak yang diminta oleh Suku Anak Dalam. Karena cintanya terhadap alam, hanya satu harapan mereka kepada pemerintah, yakni melindungi hutan tempat tinggal mereka.

Sekelompok pria dan wanita nyaris (maaf) bertelanjang tampak santai berjalan tanpa alas kaki menyusuri hutan. Mereka hanya mengenakan selembar kain untuk menutup bagian vital. Sebagian perempuan juga membiarkan (maaf) dada mereka. Kulit mereka gelap dan tampak kasar akibat terkena sinar matahari dan hawa dingin secara bergantian setiap hari. Itulah gambaran orang rimba. Warga Suku Kubu yang dikenal dengan Suku Anak Dalam sebagai Komunitas Adat Terpencil di Provinsi Jambi. Baca entri selengkapnya »

prediksi uhang pandak (bahasa Indonesia :orang pendek) menurut warga setempat

Orang Pendek adalah misteri sejarah alam terbesar di Asia; ahli binatang telah mendaftarkan laporan kera misterius di wilayah Taman Nasional Kerinci Seblat, Propinsi Jambi, lebih dari 150 tahun. Sampai hari ini, binatang yang di Kerinci dikenal sebagai “uhang pandak”, tetapi juga karena variasi yang membingungkan dari nama dialek setempat, sampai sekarang masih belum teridentifikasi oleh ilmuwan. Baca entri selengkapnya »