KISAH ALDI DAN PAPA TERSAYANG
Sudah sangat lama aku tidak pernah menulis di blog ini, banyak hal yang membuatku “menganggurkan”-nya. Awalnya blog ini dibuat sebagai blog humaniora ilmiah, yang isinya tentulah tentang analisis atau cerita terhadap objek humaniora, seperti tentang narkoba dan ASEAN, atau tentang pesona dataran tinggi kerinci, ataupun catatan perjalanan aku ke komplek percandian terluas di Indonesia, atau juga tentang kisah inspiratif. Kesibukan di pekerjaan, dan kesulitan mendalami materi dari objek humaniora yang akan di-blog-an, membuat blog ini terkesan “kurang diurus”.
Sudah 3,5 bulan aku tinggal di Pekanbaru, aku pindah tugas dari Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jambi sebagai pegawai magang, ke Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pekanbaru Tampan sebagai pegawai benaran. Kedepannya blog ini dapat “hidup” lagi, dalam waktu dekat aku akan menyajikan kisah tentang “ New Metropolitan : Pekanbaru” dan catatan perjalanan ke Candi Muara Takus di Kabupaten Kampar Propinsi Riau. Termasuk juga foto-foto menarik dari catatan perjalanan tersebut. Dalam laptop kesayanganku, sudah lama terpendam referensi tulisan tentang musik , aku berharap agar bisa menyajikan tulisan analisis tentang musik, seni musik lebih tepatnya.
Menjadikan blog ini sebagai blog ilmiah, bukan berarti mengabaikan kesan santai, bukan berarti antipati terhadap blog personal yang mengisahkan kehidupan pribadi, toh setiap orang punya prinsip dan pandangan berbeda. Aku tidak keberatan jika aku dikategorikan sebagai orang yang tertutup tentang kehidupan pribadi. Namun, bolehlah, kiranya ikut bercerita tentang kehidupanku, untuk aku toreh-kan di blog ini, untuk dibagikan kepada teman-teman pembaca, juga sebagai bahan renungan.
Ini kisah tentang aku dan Papa. Papa lahir pada 13 Februari 1960, sebagai anak ke-7 dari 8 bersaudara dari kedua orang tua yang bekerja sebagai petani. Papa mempunyai 5 kakak laki-laki dan 1 kakak perempuan, serta 1 adik perempuan, Papa adalah anak laki-laki paling bungsu. Sejak kecil, Papa hidup di sebuah desa di Batu Kambing, jika dicari di peta propinsi Sumatera Barat, nama desa itu tidak tercantum. Desa tersebut berjarak 20 km dari Lubuk Basung , ibukota Kabupaten Agam di Sumatera Barat. Tentulah aku tidak menyaksikan secara langsung masa kecil dan remajanya Papa, tapi aku bisa sedikit menceritakan masa kecilnya dari kisah-kisah yang ia ceritakan ke aku. Baca Lanjutannya…
Terjadinya transfomasi AIPO (ASEAN Inter-Parliamentary Organization) menjadi AIPA (ASEAN Inter-Paliamentary Assembly) merupakan keinginan bersama para anggota AIPO untuk lebih memperkuat dan meningkatkan peranannya yang lebih luas dalam kerjasama regional di masa mendatang, mengingat semakin banyaknya isu nasional, regional, dan internasional yang memerlukan penanganan bersama. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Agung Laksono pada Antara News tanggal 17 April 2007 mengatakan bahwa perubahan status tersebut bertujuan untuk memperkuat dan meningkatkan semangat agar kerjasama parlemen di Asia Tenggara semakin erat.


