Siapa sangka, sosok ibu yang menjadi teman saya ketika SD, muncul di Kick Andy Metro TV episode “Bukan Tenaga Medis Biasa” Jumat 2 September 2011. Suaminya adalah Muhammad Nur (almarhum) , saya biasa memanggilnya Pak M. Nur. Istrinya adalah Syamsinar Rasyad, jujur, saya baru tahu nama lengkap si ibu sewaktu menonton Kick Andy episode itu. Dulu, saya biasa memanggilnya bu M. Nur.
Sekolah Dasar Nomor 88/IV Kota Jambi, di Kelurahan Tahtul Yaman, Kecamatan Pelayangan, Jambi seberang kota — tempat saya sekolah selama 4 tahun, dari kelas 2 di pertengahan tahun 1994 hingga kelas 5 dipertengahan tahun 1998. Di sekolah itu, suami bu Syamsinar menjadi kepala sekolah. Di sekolah itu juga, papa bekerja sebagai guru selama 4 tahun.
Jika papa sedang rapat dalam waktu lama, maka yang membuat saya harus menunggu agar bisa pulang naik motor. Sebenarnya jarak sekolah dengan rumah tidak terlalu jauh. Tapi saat saya lagi malas pulang jalan kaki dan memilih menunggu papa selesai rapat, saya sering main ke warung bu Syamsinar. Yang masih ingat oleh saya, ibu Syamsinar adalah orang yang sangat ramah. Saya sering mampir ke warung kecil tempat ibu Syamsinar berjualan makanan yang berada disamping sekolah, sekedar mengobrol, kalau lagi beruntung saya bisa memperoleh kue atau snack ringan gratis dari bu Syamsinar. Terkadang, saya bermain sambil menonton tv di ruang tamu rumah bu Syamsinar, yang berada tepat disamping sekolah.
Yang saya ketahui dulu, kalau bu Syamsinarmenyediakan obat-obatan gratis dari WHO untuk penderita TBC. Karena etek (tante, adik papa) dan seorang teman dekat papa, pernah dibantu oleh bu Syamsinar.
Ini adalah artikel dari Website Kick Andy yang menceritakan profil singkat dari kisah bu Syamsinar.
Kisah lain datang dari Jambi. Tentang Syamsinar Rasyad, perempuan berusia 58 tahun, yang sudah 20 tahun mengabdi sebagai seorang relawan dari Perkumpulan Pemberantas Tuberkulosis Indonesia (PPTI). Umi, panggilan akrab ibu Syamsinar, setiap hari ia selalu berkeliling kampung untuk mencari penderita TBC, meskipun ia bukan seorang tenaga peramedis. Tak jarang ia harus bejalan jauh untuk menemui pasien-pasiennya. Selain menemui langsung para pasien, ia juga melakukan sosialisasi dari mesjid ke mesjid, menghimbau agar para penderita tuberculosis, untuk mau didampingi untuk berobat di klinik PPTI.
Tak jarang Syamsinar mendapat cibiran dari masyarakat, terhadap apa yang dilakukannya. Meski demikian, Syamsinar tak patah arang. Hingga saat ini ia sudah menolong sedikitnya 185 orang yang sembuh dari TBC. Artinya, setiap tahun ia menyelamatkan jiwa rata-rata 10 orang atau lebih. “Dulu ada orang petani yang kena TBC parah, setelah mengkuti pengobatan dia sembuh. Sekarang kebun kelapa sawitnya dah 10 hektar,” papar Syamsinar tentang salah satu pasiennya. “Dan itu yang membuat saya bangga untuk terus mengabdi,” tambahnya.
(sumber : http://www.kickandy.com/theshow/1/1/2166/read/BUKAN-TENAGA-MEDIS-BIASA)
Siapa sebenarnya bu Syamsinar, hingga saya menceritakannya ke dalam blog? Tulisan berikut ini saya salin dari website Perkumpulan Pemberantasan Tuberkolosis Indonesia (PPTI) tempat bu Syamsinar menjadi sukarelawan. Baca entri selengkapnya »







Terjadinya transfomasi AIPO (ASEAN Inter-Parliamentary Organization) menjadi AIPA (ASEAN Inter-Paliamentary Assembly) merupakan keinginan bersama para anggota AIPO untuk lebih memperkuat dan meningkatkan peranannya yang lebih luas dalam kerjasama regional di masa mendatang, mengingat semakin banyaknya isu nasional, regional, dan internasional yang memerlukan penanganan bersama. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Agung Laksono pada Antara News tanggal 17 April 2007 mengatakan bahwa perubahan status tersebut bertujuan untuk memperkuat dan meningkatkan semangat agar kerjasama parlemen di Asia Tenggara semakin erat.


